Merenda tawa dan tangis
Ku urut kembali genggam tangan kita dalam diorama takdir
Meneteskan air mata dalam euforia bersamamu
Detik detik itu memuja kita
Kata bertaut mengungkap kisah yang akan jadi kenangan
Senyumku kadang bias
Ketika runtun cerita tiba saat mata kita tak ingin saling menatap
Saat tangan kita merasakan duri ketika saling menggenggam
Harga diri semu membungkam bibir tuk saling berkata maaf
Tetapi apa arti "sejati" di belakang kata "teman"?
Perlahan bahasa tubuh kita mulai bersapa meski bibir terkatup
Detik berdetak, kita pun terbahak lagi
Hanya sedikit kata yang dapat menjadi keterangan pada diorama takdir ini
Tapi aku sadar sekamus kata pun tak dapat tepat menyalakan diorama ini
Hanya hati dan pikiran kami yang bisa
Jumat, 19 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar