Tua itu pasti. Dewasa itu pilihan. Semua orang tahu akan hal ini. Tapi berapa banyak yang menyadarinya? Kesadaran itu jarang dapat dirasakan setiap orang karena kita merasa pasti akan menjadi dewasa.
Seorang anak kecil selalu berpikir tentang hal-hal ideal yang akan dilakukannya setelah dia dewasa nanti. Kenapa setelah “dewasa” bukan setelah “tua”? Karena setiap saat orang-orang yang berada di sekelilingnya selalu berkata “setelah kau dewasa nanti ....”, bukannya “setelah kau tua nanti ...”. Karena itu dalam setiap diri kita tertanam pemikiran bahwa pada suatu saat kita semua akan mencapai kedewasaan tanpa usaha sama sekali. Kedewasaan sama seperti uban yang akan kita peroleh pada masa tertentu.
Ada pula pemikiran yang menjelaskan bahwa “dewasa” dan “tua” hanyalah perbedaan nilai bahasa. Dewasa mencerminkan kemapanan pemikiran dan hidup, sedangkan tua menyiratkan ketidakberdayaan dan keterlambatan dalam melakukan sesuatu. Orang yang disebut dewasa merupakan seseorang yang sedang berada dalam nilai diri paling tinggi dari hidupnya, dan orang yang dikatakan tua adalah orang yang sudah melewati kesempatan-kesempatan berharga dalam hidup. Karena itu seseorang akan merasa lebih bangga jika disebut dewasa dibandingkan tua.
Kedewasaan itu sebenarnya merupakan pola pikir. The way we think about something. Dua orang tua (telah melewati masa remaja) bisa saja memikirkan tentang hal yang sama tapi berbeda arah pemikirannya. Bisa dianalogikan seperti 2 komputer mengolah data yang sama tetapi dengan 2 prosesor yang berbeda. Seseorang yang telah dewasa tidak melibatkan banyak emosi dalam proses pemikirannya, sebaliknya orang yang tidak dewasa membiarkan pikirannya dikontrol oleh emosi dibanding logika, bahkan tidak menyadari pikirannya didominasi oleh emosi. Emosi yang dirasakan atau dialami bisa bermacam-macam, ada amarah, kesedihan, kegembiraan, dan yang paling sering adalah ketakutan, entah ketakutan akan kehilangan, tidak dapat diterima pergaulan, ketakutan tidak dianggap, dan lain-lain. Karena berbagai macam emosi ini, seseorang yang tidak dewasa pada umumnya membiarkan faktor-faktor eksternal (di luar diri) mempengaruhi integritas dirinya. Contohnya seseorang yang berbohong/ tidak jujur agar tidak dianggap aneh oleh lingkungannya, seseorang yang mudah marah jika “dipancing” orang lain, seseorang yang bergaya atau berdandan berlebihan atau melakukan kebiasaan tertentu, seperti merokok, supaya bisa diterima atau diakui suatu komunitas. Bahkan pada kadar yang berlebihan seseorang dapat kehilangan identitas dirinya sendiri.
Semua manusia pada masa remajanya mengalami masa transisi atau disebut juga masa pencarian jati diri dan mengalami periode ketidakdewasaan tersebut. Setiap orang mengalami periode ini dengan intensitas dan lama waktu yang berbeda-beda. Bahkan ada yang tidak pernah mencapai kedewasaan. Kenapa demikian? Banyak faktor yang mempengaruhi dan faktor-faltor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang berpengaruh dapat berasal dari lingkungan individu tersebut. Ada kondisi lingkungan-lingkungan tertentu yang membuat pemikiran seseorang tidak dapat berkembang sehingga tidak mencapai kedewasaan. Faktor kedua dan yang paling menentukan ialah faktor internal. Seberapa kuat dan efisien nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang individu yang menjadikan proses pendewasaan berlangsung baik sehingga melahirkan pola pemikiran yang berintegritas dan bertanggung jawab pada diri masing-masing. Faktor internal juga menetukan kekuatan hambatan pengaruh faktor eksternal pada kepribadian yang terbentuk.
Yang perlu kita semua camkan dalam diri kita, kedewasaan itu berkaitan erat dengan kesadaran akan kebenaran. Kesadaran, pengakuan serta kemauan menjalani hal-hal yang diyakini benar. Kebenaran sebenarnya bukan hal yang perlu ditunggu atau dicari karena setiap materi dan imateri di alam ini mengandung kebenaran. Ibarat seseorang yang membuka-buka banyak pintu untuk mencari kuncinya yang hilang, padahal kunci yang digunakan untk membuka-buka pintu itulah kunci yang sedang dicarinya. Kebenaran akan terlihat jika kita mengamati dengan cara yang dewasa.
Rabu, 17 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar