Menyanjungmu adalah hal termudah bagiku
Namun bagaimana bisa aku menyanjung sedangkan mata ini tak mampu menghadap kemilaumu
Darahku mengajak jantung untuk memainkan irama gilayang membuat telapak tangan ini basah, syaraf menggetar tangan, kaki, bibir, pipi, ah semua
Kau tak au betapa hati ini gilang gemilang ketika buku di jemarimu jatuh
Karena dengan begitu ragaku bisa mendekati auramu
Mengambilkan buku itu dengan tanganku, ya tanganku
Dan menyerahkannya padamu
Setiap tungkai yang menopang berdiriku hampir kehabisan daya ketika jari telunjukmu mengibas sehelai dua anak rambut yang tersangkut di lekukan bulu matamu
Sambil bibirmu melagu “terima kasih”
Sebentuk nada tertutur dengan kelembutan yang menghalus dan tidak dibuat-buat
Oh, adakah sebutan yang lebih indah dari “dewi” untukmu?
Dan kaupun berlalu tanpa kusadari tapak langkah sopan yang membawa seperangkat cantikmu
Mungkin kau tinggalkan utukku sesatu
Tapi pantaskah kehinaan ini menerima mimpi indah darimu?
Rasanya tidak
Walaupun mimpi indah itu tetap merecoki tidurku di beribu malam setelahnya
Ku coba menelan pahit kepantasan yang tersaji di depanku
Kau akan selalu jadi mimpiku, cantik
Akan selalu jadi nada dalam setiap laguku
Akan selalu jadi gerakan dalam setiap tarianku
Dan warna dalam setiap lukisanku
Tapi tak rela rasanya mengganggu keanggunanmu itu dengan rendahku
Biarlah kau tetap indah di situ
Di tempat yang pantas menyanjungmu, ratuku
Bahkan aku bahagia bilaman nanti ada mata yang mampu menatap kecantikanmu
Membungkus kulitmu
Dan memeluk hangat dirimu
Dengan cintanya yang mungkin tidak sebesar cintaku padamu namun pantas untukmu
Jumat, 19 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar