Menyanjungmu adalah hal termudah bagiku
Namun bagaimana bisa aku menyanjung sedangkan mata ini tak mampu menghadap kemilaumu
Darahku mengajak jantung untuk memainkan irama gilayang membuat telapak tangan ini basah, syaraf menggetar tangan, kaki, bibir, pipi, ah semua
Kau tak au betapa hati ini gilang gemilang ketika buku di jemarimu jatuh
Karena dengan begitu ragaku bisa mendekati auramu
Mengambilkan buku itu dengan tanganku, ya tanganku
Dan menyerahkannya padamu
Setiap tungkai yang menopang berdiriku hampir kehabisan daya ketika jari telunjukmu mengibas sehelai dua anak rambut yang tersangkut di lekukan bulu matamu
Sambil bibirmu melagu “terima kasih”
Sebentuk nada tertutur dengan kelembutan yang menghalus dan tidak dibuat-buat
Oh, adakah sebutan yang lebih indah dari “dewi” untukmu?
Dan kaupun berlalu tanpa kusadari tapak langkah sopan yang membawa seperangkat cantikmu
Mungkin kau tinggalkan utukku sesatu
Tapi pantaskah kehinaan ini menerima mimpi indah darimu?
Rasanya tidak
Walaupun mimpi indah itu tetap merecoki tidurku di beribu malam setelahnya
Ku coba menelan pahit kepantasan yang tersaji di depanku
Kau akan selalu jadi mimpiku, cantik
Akan selalu jadi nada dalam setiap laguku
Akan selalu jadi gerakan dalam setiap tarianku
Dan warna dalam setiap lukisanku
Tapi tak rela rasanya mengganggu keanggunanmu itu dengan rendahku
Biarlah kau tetap indah di situ
Di tempat yang pantas menyanjungmu, ratuku
Bahkan aku bahagia bilaman nanti ada mata yang mampu menatap kecantikanmu
Membungkus kulitmu
Dan memeluk hangat dirimu
Dengan cintanya yang mungkin tidak sebesar cintaku padamu namun pantas untukmu
Jumat, 19 Februari 2010
Memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia (catatan seorang siswa)
Sejak kelas 1 sekolah dasar saya sudah “dinobatkan” oleh guru kelas saya sebagai murid teladan, siswa terpintar, dan titel-titel membanggakan lain. Teman-teman saya pun semua mengiyakan gelar-gelar tersebut karena pada dasarnya saya anak pendiam yang tidak pernah menjahili dan mengganggu anak lain. Mereka dengan senang hati mengamini gelar-gelar itu.
Hal ini terus berlanjut hingga saya di sekolah menengah pertama. Semua siswa baik secara langsung maupun tidak langsung mengenali saya sebagai “si pintar”. Bahkan anggapan itu pula yang membawa saya menjabat sebagai ketua kelas selama SMP dan ketua osis SMP Negeri 1 Gorontalo selama lebih dari 1 tahun. Padahal jika diingat-ingat lagi saya sama sekali tidak punya jiwa kepemimpinan pada waktu itu. Malahan saya adalah anak yang sangat mudah gugup ketika tampil di depan kelas, terlebih lagi di depan seluruh sekolah.
Saya tidak pernah menyesal dengan semua yang telah saya alami, bahkan sangat berterima kasih dengan semua itu. Secara langsung predikat-predikat dan jabatan-jabatan itu yang membentuk kemampuan dan kepribadian saya. Dari anak yang mudah gugup, pasif, pemalu saya menjadi relatif lebih berani, percaya diri, dan lebih aktif. Saya menyadari bukan pribadi saya yang pantas dengan predikat-predikat dan jabatan-jabatan itu, tapi semua itulah yang membantu saya membentuk pribadi saya.
Apa yang ingin saya tekankan adalah ini :
Saya digelari “si pintar” sejak awal sekolah saya selalu menjadi peringakt 1 umum di sd dan smp, dan 3 besar di smu
Saya dipercaya mampu sebagai pemimpin saya memenagkan kampanye pemilihan ketua osis smp
Dalam tulisan ini saya bukannya ingin membangga-banggakan apa yang telah saya alami, tapi saya ingin menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi dan mengaitkan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang memungkinkan hal-hal seperti ini sering sekali terjadi.
Dari buku-buku yang saya baca (saya tidak menyebutkan sumber bukan karena tidak menghormati, tapi ingin ini berasal dari pemahaman bukan hapalan), kesalahan adalah bagian dari pembelajaran bukan sesuatu yang harus dihukum. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, entah itu akademik ataupun perilaku, umumnya pendidik, dalam hal ini gurunya, akan memberikan hukuman. Hukuman yang saya maksud bukan hukuman secara fisik atau hardikan (meskipun yang saya alami ketika sd adalah hukuman-hukuman ini), tapi lebih pada hukuman yang secara disadar atau tidak menurunkan kepercayaan diri dan ekspektasi anak pada dirinya sendiri.
Contoh 1 : ketika anak melakukan kesalahan perilaku dia akan dikategorikan “anak nakal”. Pendidik tidak membantu anak ini menemukan kebaikan yang pastinya ada pada setiap anak, tapi entah secara langsung atau tidak langsung membuat si anak percaya bahwa dia anak nakal, bahwa dia bermasalah, bahwa itu memang sudah sifatnya. Dan percaya atau tidak, penilaian-penilaian ini akan tertanam erat di benak si anak dan akan terus dibawa hingga Ia dewasa. Dan nilai-nilai ini yang Ia pratekkan. “Saya anak nakal. Wajar kalau saya melakukan buruk”. Berbeda dengan anak yang dikategorikan pintar dan baik, dia akan terus menjaga sikapnya karena tertanam padanya “saya anak baik dan pintar, jadi saya tidak boleh melakukan buruk dan harus terus mengoptimalkan kemampuan saya”.
Contoh 2 : dalam proses belajar ketika anak tidak bisa menjawab soal dengan benar dia akan diberikan nilai rendah yang akan mempengaruhi nilai akhir semesternya. Meskipun di akhir semester anak ini telah memiliki kemampuan yang cukup untuk dinilai baik, namun karena “sejarah” dia pernah mendapat nilai rendah (karena melakukan kesalahan), nilai akhirnya akan mencerminkan kemampuan yang lebih rendah dari yang sebenarnya telah dia miliki (karena proses pemberian nilai akhir memperhitungkan nilai tugas-tugas, UTS, dan penilaian lain selama proses belajar). Nilai akhir inilah yang akan menjadi patokan bagi lingkungan dan dirinya sendiri. Sehingga anak akan menurunkan kepercayaan diri dan ekspektasi akan kemampuannya.
Poin yang ingin saya utarakan sebagai kelemahan sistem pendidikan di Indonesia :
Setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda, jadi sebaiknya janganlah mengkategorikan mereka dalam kelompok-kelompok dengan gelar “si pintar”, “si nakal”, “si bodoh”, “si rajin”, “si kreatif”, dan lain-lain. Ada anak-anak yang cepat memahami pelajaran atau apa yang diajarkan bukan berarti merekalah golongan anak-anak pintar dan yang lainnya bodoh. Hal ini mungkin terjadi karena secara biologis di awal-awal umur manusia adalah masa-masa dimana kecepatan pertumbuhan dan perkembangan begitu tinggi. Berbeda umur beberapa bulan saja ukuran dan kemampuan otak anak-anak akan berbeda (hal ini telah dibuktikan oleh penelitian para ahli psikologi). Ini berarti anak-anak yang lebih muda, meski pada awalnya mungkin terlihat “bodoh”, bukan berarti tidak dapat mencapai pemahaman yang telah diperoleh oleh anak-anak yang lebih tua. Mereka hanya “belum menunjukkan taringnya”.
Ketika mereka melakukan kesalahan, jangan dihukum. Itu adalah proses pembelajaran alami manusia. Belajar dari kesalahan. Seperti kita belajar mengendarai sepeda. Pada awalnya kita akan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tapi dari terjatuh itulah kita belajar bagaimana supaya tidak jatuh lagi. Sama dengan proses belajar anak. Yang aneh justru jika kita menghukum mereka karena melakukan kesalahan.
Karena itu seharusnya setiap anak diberikan kesempatan berkembang sesuai usia dan proses individunya tanpa mengalami pengelompokkan dengan penilaian-penilaian dari gurunya. Biarkan mereka berkembang. Biarkan mereka melakukan kesalahan. Bantu mereka mencapai kemampuan optimal baik secara akademik, psikis, dan kreatifitas. Tumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka. Karena dengan mematikan kepercayaan diri itu sama saja dengan membunuh kemampuan yang mungkin akan dimilikinya. Dengan membunuh kemampuan anak, berarti menurunkan sumber daya manusia Indonesia baik secara kualitas maupun kuantitas.
Hal ini terus berlanjut hingga saya di sekolah menengah pertama. Semua siswa baik secara langsung maupun tidak langsung mengenali saya sebagai “si pintar”. Bahkan anggapan itu pula yang membawa saya menjabat sebagai ketua kelas selama SMP dan ketua osis SMP Negeri 1 Gorontalo selama lebih dari 1 tahun. Padahal jika diingat-ingat lagi saya sama sekali tidak punya jiwa kepemimpinan pada waktu itu. Malahan saya adalah anak yang sangat mudah gugup ketika tampil di depan kelas, terlebih lagi di depan seluruh sekolah.
Saya tidak pernah menyesal dengan semua yang telah saya alami, bahkan sangat berterima kasih dengan semua itu. Secara langsung predikat-predikat dan jabatan-jabatan itu yang membentuk kemampuan dan kepribadian saya. Dari anak yang mudah gugup, pasif, pemalu saya menjadi relatif lebih berani, percaya diri, dan lebih aktif. Saya menyadari bukan pribadi saya yang pantas dengan predikat-predikat dan jabatan-jabatan itu, tapi semua itulah yang membantu saya membentuk pribadi saya.
Apa yang ingin saya tekankan adalah ini :
Saya digelari “si pintar” sejak awal sekolah saya selalu menjadi peringakt 1 umum di sd dan smp, dan 3 besar di smu
Saya dipercaya mampu sebagai pemimpin saya memenagkan kampanye pemilihan ketua osis smp
Dalam tulisan ini saya bukannya ingin membangga-banggakan apa yang telah saya alami, tapi saya ingin menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi dan mengaitkan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang memungkinkan hal-hal seperti ini sering sekali terjadi.
Dari buku-buku yang saya baca (saya tidak menyebutkan sumber bukan karena tidak menghormati, tapi ingin ini berasal dari pemahaman bukan hapalan), kesalahan adalah bagian dari pembelajaran bukan sesuatu yang harus dihukum. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, entah itu akademik ataupun perilaku, umumnya pendidik, dalam hal ini gurunya, akan memberikan hukuman. Hukuman yang saya maksud bukan hukuman secara fisik atau hardikan (meskipun yang saya alami ketika sd adalah hukuman-hukuman ini), tapi lebih pada hukuman yang secara disadar atau tidak menurunkan kepercayaan diri dan ekspektasi anak pada dirinya sendiri.
Contoh 1 : ketika anak melakukan kesalahan perilaku dia akan dikategorikan “anak nakal”. Pendidik tidak membantu anak ini menemukan kebaikan yang pastinya ada pada setiap anak, tapi entah secara langsung atau tidak langsung membuat si anak percaya bahwa dia anak nakal, bahwa dia bermasalah, bahwa itu memang sudah sifatnya. Dan percaya atau tidak, penilaian-penilaian ini akan tertanam erat di benak si anak dan akan terus dibawa hingga Ia dewasa. Dan nilai-nilai ini yang Ia pratekkan. “Saya anak nakal. Wajar kalau saya melakukan buruk”. Berbeda dengan anak yang dikategorikan pintar dan baik, dia akan terus menjaga sikapnya karena tertanam padanya “saya anak baik dan pintar, jadi saya tidak boleh melakukan buruk dan harus terus mengoptimalkan kemampuan saya”.
Contoh 2 : dalam proses belajar ketika anak tidak bisa menjawab soal dengan benar dia akan diberikan nilai rendah yang akan mempengaruhi nilai akhir semesternya. Meskipun di akhir semester anak ini telah memiliki kemampuan yang cukup untuk dinilai baik, namun karena “sejarah” dia pernah mendapat nilai rendah (karena melakukan kesalahan), nilai akhirnya akan mencerminkan kemampuan yang lebih rendah dari yang sebenarnya telah dia miliki (karena proses pemberian nilai akhir memperhitungkan nilai tugas-tugas, UTS, dan penilaian lain selama proses belajar). Nilai akhir inilah yang akan menjadi patokan bagi lingkungan dan dirinya sendiri. Sehingga anak akan menurunkan kepercayaan diri dan ekspektasi akan kemampuannya.
Poin yang ingin saya utarakan sebagai kelemahan sistem pendidikan di Indonesia :
Setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda, jadi sebaiknya janganlah mengkategorikan mereka dalam kelompok-kelompok dengan gelar “si pintar”, “si nakal”, “si bodoh”, “si rajin”, “si kreatif”, dan lain-lain. Ada anak-anak yang cepat memahami pelajaran atau apa yang diajarkan bukan berarti merekalah golongan anak-anak pintar dan yang lainnya bodoh. Hal ini mungkin terjadi karena secara biologis di awal-awal umur manusia adalah masa-masa dimana kecepatan pertumbuhan dan perkembangan begitu tinggi. Berbeda umur beberapa bulan saja ukuran dan kemampuan otak anak-anak akan berbeda (hal ini telah dibuktikan oleh penelitian para ahli psikologi). Ini berarti anak-anak yang lebih muda, meski pada awalnya mungkin terlihat “bodoh”, bukan berarti tidak dapat mencapai pemahaman yang telah diperoleh oleh anak-anak yang lebih tua. Mereka hanya “belum menunjukkan taringnya”.
Ketika mereka melakukan kesalahan, jangan dihukum. Itu adalah proses pembelajaran alami manusia. Belajar dari kesalahan. Seperti kita belajar mengendarai sepeda. Pada awalnya kita akan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tapi dari terjatuh itulah kita belajar bagaimana supaya tidak jatuh lagi. Sama dengan proses belajar anak. Yang aneh justru jika kita menghukum mereka karena melakukan kesalahan.
Karena itu seharusnya setiap anak diberikan kesempatan berkembang sesuai usia dan proses individunya tanpa mengalami pengelompokkan dengan penilaian-penilaian dari gurunya. Biarkan mereka berkembang. Biarkan mereka melakukan kesalahan. Bantu mereka mencapai kemampuan optimal baik secara akademik, psikis, dan kreatifitas. Tumbuhkan rasa kepercayaan diri mereka. Karena dengan mematikan kepercayaan diri itu sama saja dengan membunuh kemampuan yang mungkin akan dimilikinya. Dengan membunuh kemampuan anak, berarti menurunkan sumber daya manusia Indonesia baik secara kualitas maupun kuantitas.
another friendship story
crita dimulai tanggal 13 juni 2003. segerombolan anak-anak ingusan datang berkumpul di sekolah itu. yap,hari itu hari penerimaan siswa baru. wajah-wajah penuh keluguan yang tidak tahu pasti apa yang akan mereka hadapi tiga tahun ke depan. yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka telah diterima di sekolah yang kata orang TERbaik di kota itu. para orang tua begitu sibuknya mempersiapkan segala sesuatu demi kenyamanan anaknya di sekolah itu sambil menahan air mata yang hampir tumpah karena akan kehilangan keceriaan anaknya di setiap sudut rumah.
well,the story goes. PENJARA. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sekolah itu di benak masing-masing mereka. ini ga boleh, itu ga boleh. dengan tekanan psikis itu,,mereka sebagai makhluk individualis,,mencoba bertahan dengan berbagai ekspresi. ada yang bersikap sangat tertutup,, sebagian yang egois,, ada yang menganggap dirinya tidak pantas berada di sana,, sebagian lagi berusaha menutupi wajahnya dengan topeng keceriaan walaupun hatinya sendu. Namun tidak sedikit yang menikmati suasana tertekan itu (entah karena memang tidak mau tau,,atau tidak mau merasakan). karenanya suasana terasa individualis dan kompetitif negatif.
tapi karna pada dasarnya mereka orang-orang yang baik hati dan tidak sombong serta suka menjahit (...???),,masa kegelapan itu dengan segera berakhir dan berganti dengan masa-masa penuh keceriaan. semua karna PERSAHABATAN. walopun sekolah menekan kewarasan mereka dengan berbagai cara,, mereka masih bisa dan tetap kuat bertahan. karena mereka saling menggenggam tangan dan mereka tau bahwa mereka tidak sendiri. mereka slalu tertawa bersama,baik menertawakan hal yang lucu maupun menertawakan kekecewaan, kesedihan dan kemirisan mereka. sekali lagi karena mereka tau mereka tidak sendiri.
masa-masa itu penuh dengan kebanggaan. bangga karena meskipun mereka bukan manusia yang sempurna,,mereka merasa sempurna dengan berdampingan satu sama lain. bangga karena kesatuan hati mereka.
sayangnya,,walaupun mereka tidak ingin,,tapi mereka harus berpisah. Bukan. bukan berpisah hati,tapi berpisah raga. karena mereka tau hati mereka tak akan terpisahkan.
yaaah,,cerita seperti kebanyakan cerita persahabatan yang ada. yang juga terjadi pada angkatan-angkatan sebelum dan sesudahnya. tapi aku yakin,,jika tidak mengalami kisah itu,,aku tidak akan seperti sekarang. aku yang lebih dewasa dan lebih kuat menjejakkan kaki di atas bumi. karena ada "sesuatu" dalam kisah ini yang tidak dimiliki kisah-kisah lainnya. "sesuatu" yang aku tak tau apa namanya. "sesuatu" yang begitu dalam hingga tidak ada kata yang dapat mewakili. "sesuatu" yang hanya bisa dirasakan oleh KAMI. ANGKATAN 7.
well,the story goes. PENJARA. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sekolah itu di benak masing-masing mereka. ini ga boleh, itu ga boleh. dengan tekanan psikis itu,,mereka sebagai makhluk individualis,,mencoba bertahan dengan berbagai ekspresi. ada yang bersikap sangat tertutup,, sebagian yang egois,, ada yang menganggap dirinya tidak pantas berada di sana,, sebagian lagi berusaha menutupi wajahnya dengan topeng keceriaan walaupun hatinya sendu. Namun tidak sedikit yang menikmati suasana tertekan itu (entah karena memang tidak mau tau,,atau tidak mau merasakan). karenanya suasana terasa individualis dan kompetitif negatif.
tapi karna pada dasarnya mereka orang-orang yang baik hati dan tidak sombong serta suka menjahit (...???),,masa kegelapan itu dengan segera berakhir dan berganti dengan masa-masa penuh keceriaan. semua karna PERSAHABATAN. walopun sekolah menekan kewarasan mereka dengan berbagai cara,, mereka masih bisa dan tetap kuat bertahan. karena mereka saling menggenggam tangan dan mereka tau bahwa mereka tidak sendiri. mereka slalu tertawa bersama,baik menertawakan hal yang lucu maupun menertawakan kekecewaan, kesedihan dan kemirisan mereka. sekali lagi karena mereka tau mereka tidak sendiri.
masa-masa itu penuh dengan kebanggaan. bangga karena meskipun mereka bukan manusia yang sempurna,,mereka merasa sempurna dengan berdampingan satu sama lain. bangga karena kesatuan hati mereka.
sayangnya,,walaupun mereka tidak ingin,,tapi mereka harus berpisah. Bukan. bukan berpisah hati,tapi berpisah raga. karena mereka tau hati mereka tak akan terpisahkan.
yaaah,,cerita seperti kebanyakan cerita persahabatan yang ada. yang juga terjadi pada angkatan-angkatan sebelum dan sesudahnya. tapi aku yakin,,jika tidak mengalami kisah itu,,aku tidak akan seperti sekarang. aku yang lebih dewasa dan lebih kuat menjejakkan kaki di atas bumi. karena ada "sesuatu" dalam kisah ini yang tidak dimiliki kisah-kisah lainnya. "sesuatu" yang aku tak tau apa namanya. "sesuatu" yang begitu dalam hingga tidak ada kata yang dapat mewakili. "sesuatu" yang hanya bisa dirasakan oleh KAMI. ANGKATAN 7.
Cintaku seperti sebuah elektron
Cintaku seperti sebuah elektron
Begitu kecil dan sederhana
Tak bernyawa
Cintaku seperti sebuah elektron
Tak dapat dibagi lagi
Membentuk awan dengan beragam tingkat energi yang selalu konstan melindungi setiap kata cintaku untukmu
Cintaku seperti sebuah elektron
Memberi muatan pada setiap unsur jantungku sehingga terus berdetak untuk mencintaimu
Cintaku seperti sebuah elektron
Yang terus bergerak tanpa lelah mengelilingi inti atomnya
Bagiku, kaulah inti atomku...
Begitu kecil dan sederhana
Tak bernyawa
Cintaku seperti sebuah elektron
Tak dapat dibagi lagi
Membentuk awan dengan beragam tingkat energi yang selalu konstan melindungi setiap kata cintaku untukmu
Cintaku seperti sebuah elektron
Memberi muatan pada setiap unsur jantungku sehingga terus berdetak untuk mencintaimu
Cintaku seperti sebuah elektron
Yang terus bergerak tanpa lelah mengelilingi inti atomnya
Bagiku, kaulah inti atomku...
Tak ingin dibatasi judul (hanya tuangan kenangan)
Merenda tawa dan tangis
Ku urut kembali genggam tangan kita dalam diorama takdir
Meneteskan air mata dalam euforia bersamamu
Detik detik itu memuja kita
Kata bertaut mengungkap kisah yang akan jadi kenangan
Senyumku kadang bias
Ketika runtun cerita tiba saat mata kita tak ingin saling menatap
Saat tangan kita merasakan duri ketika saling menggenggam
Harga diri semu membungkam bibir tuk saling berkata maaf
Tetapi apa arti "sejati" di belakang kata "teman"?
Perlahan bahasa tubuh kita mulai bersapa meski bibir terkatup
Detik berdetak, kita pun terbahak lagi
Hanya sedikit kata yang dapat menjadi keterangan pada diorama takdir ini
Tapi aku sadar sekamus kata pun tak dapat tepat menyalakan diorama ini
Hanya hati dan pikiran kami yang bisa
Ku urut kembali genggam tangan kita dalam diorama takdir
Meneteskan air mata dalam euforia bersamamu
Detik detik itu memuja kita
Kata bertaut mengungkap kisah yang akan jadi kenangan
Senyumku kadang bias
Ketika runtun cerita tiba saat mata kita tak ingin saling menatap
Saat tangan kita merasakan duri ketika saling menggenggam
Harga diri semu membungkam bibir tuk saling berkata maaf
Tetapi apa arti "sejati" di belakang kata "teman"?
Perlahan bahasa tubuh kita mulai bersapa meski bibir terkatup
Detik berdetak, kita pun terbahak lagi
Hanya sedikit kata yang dapat menjadi keterangan pada diorama takdir ini
Tapi aku sadar sekamus kata pun tak dapat tepat menyalakan diorama ini
Hanya hati dan pikiran kami yang bisa
You
When i open my eyes, i see u
When i try to hear a sound, i hear u
When i smell the air, i smell u
When i walk on the way, i walk to u
When i touch with my hands, i touch u
You're really bothering me
And i simply just love it
Cause my eyes won't open if i don't see u
My ears won't hear if i don't hear u
My nose won't smell if i don't smell u
My feet won't step if i don't walk to u
And my hands won't feel anything if i don't touch u
Can't u see that? ?
I just......need u
That's all
Originally (even the mistakes) by ayhako
When i try to hear a sound, i hear u
When i smell the air, i smell u
When i walk on the way, i walk to u
When i touch with my hands, i touch u
You're really bothering me
And i simply just love it
Cause my eyes won't open if i don't see u
My ears won't hear if i don't hear u
My nose won't smell if i don't smell u
My feet won't step if i don't walk to u
And my hands won't feel anything if i don't touch u
Can't u see that? ?
I just......need u
That's all
Originally (even the mistakes) by ayhako
Rabu, 17 Februari 2010
Tarian sempurna
irama yang terdengar ini tak tersentuh khayalan tapi nyata
menjiwai semua indra dari setiap pergerakan
detak jantung, getaran pta suara, jejak kai, tiupan angin, aliran air
semua mencipta suatu harmoni yang mengiringi tarian ini
tarian elektron memutari inti, tarian sel-sel membelah, tarian ikan berenang, tarian burung terbang, tarian makhluk berjalan, tarian anggukan tumbuhan, tarian planet berotasi, tarian meteorit melaju, tarian galaksi
gerakan yang tunduk pada hukum fisik
sekaligus bukti eksistensi kegaiban
keteraturan berulang
bahkan setiap kesalahan bertujuan
tiada sempurna dari setiap fragmen
namun saat mereka menari kesempurnaan tercipta
menjiwai semua indra dari setiap pergerakan
detak jantung, getaran pta suara, jejak kai, tiupan angin, aliran air
semua mencipta suatu harmoni yang mengiringi tarian ini
tarian elektron memutari inti, tarian sel-sel membelah, tarian ikan berenang, tarian burung terbang, tarian makhluk berjalan, tarian anggukan tumbuhan, tarian planet berotasi, tarian meteorit melaju, tarian galaksi
gerakan yang tunduk pada hukum fisik
sekaligus bukti eksistensi kegaiban
keteraturan berulang
bahkan setiap kesalahan bertujuan
tiada sempurna dari setiap fragmen
namun saat mereka menari kesempurnaan tercipta
Dewasa dan kegunaannya
Tua itu pasti. Dewasa itu pilihan. Semua orang tahu akan hal ini. Tapi berapa banyak yang menyadarinya? Kesadaran itu jarang dapat dirasakan setiap orang karena kita merasa pasti akan menjadi dewasa.
Seorang anak kecil selalu berpikir tentang hal-hal ideal yang akan dilakukannya setelah dia dewasa nanti. Kenapa setelah “dewasa” bukan setelah “tua”? Karena setiap saat orang-orang yang berada di sekelilingnya selalu berkata “setelah kau dewasa nanti ....”, bukannya “setelah kau tua nanti ...”. Karena itu dalam setiap diri kita tertanam pemikiran bahwa pada suatu saat kita semua akan mencapai kedewasaan tanpa usaha sama sekali. Kedewasaan sama seperti uban yang akan kita peroleh pada masa tertentu.
Ada pula pemikiran yang menjelaskan bahwa “dewasa” dan “tua” hanyalah perbedaan nilai bahasa. Dewasa mencerminkan kemapanan pemikiran dan hidup, sedangkan tua menyiratkan ketidakberdayaan dan keterlambatan dalam melakukan sesuatu. Orang yang disebut dewasa merupakan seseorang yang sedang berada dalam nilai diri paling tinggi dari hidupnya, dan orang yang dikatakan tua adalah orang yang sudah melewati kesempatan-kesempatan berharga dalam hidup. Karena itu seseorang akan merasa lebih bangga jika disebut dewasa dibandingkan tua.
Kedewasaan itu sebenarnya merupakan pola pikir. The way we think about something. Dua orang tua (telah melewati masa remaja) bisa saja memikirkan tentang hal yang sama tapi berbeda arah pemikirannya. Bisa dianalogikan seperti 2 komputer mengolah data yang sama tetapi dengan 2 prosesor yang berbeda. Seseorang yang telah dewasa tidak melibatkan banyak emosi dalam proses pemikirannya, sebaliknya orang yang tidak dewasa membiarkan pikirannya dikontrol oleh emosi dibanding logika, bahkan tidak menyadari pikirannya didominasi oleh emosi. Emosi yang dirasakan atau dialami bisa bermacam-macam, ada amarah, kesedihan, kegembiraan, dan yang paling sering adalah ketakutan, entah ketakutan akan kehilangan, tidak dapat diterima pergaulan, ketakutan tidak dianggap, dan lain-lain. Karena berbagai macam emosi ini, seseorang yang tidak dewasa pada umumnya membiarkan faktor-faktor eksternal (di luar diri) mempengaruhi integritas dirinya. Contohnya seseorang yang berbohong/ tidak jujur agar tidak dianggap aneh oleh lingkungannya, seseorang yang mudah marah jika “dipancing” orang lain, seseorang yang bergaya atau berdandan berlebihan atau melakukan kebiasaan tertentu, seperti merokok, supaya bisa diterima atau diakui suatu komunitas. Bahkan pada kadar yang berlebihan seseorang dapat kehilangan identitas dirinya sendiri.
Semua manusia pada masa remajanya mengalami masa transisi atau disebut juga masa pencarian jati diri dan mengalami periode ketidakdewasaan tersebut. Setiap orang mengalami periode ini dengan intensitas dan lama waktu yang berbeda-beda. Bahkan ada yang tidak pernah mencapai kedewasaan. Kenapa demikian? Banyak faktor yang mempengaruhi dan faktor-faltor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang berpengaruh dapat berasal dari lingkungan individu tersebut. Ada kondisi lingkungan-lingkungan tertentu yang membuat pemikiran seseorang tidak dapat berkembang sehingga tidak mencapai kedewasaan. Faktor kedua dan yang paling menentukan ialah faktor internal. Seberapa kuat dan efisien nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang individu yang menjadikan proses pendewasaan berlangsung baik sehingga melahirkan pola pemikiran yang berintegritas dan bertanggung jawab pada diri masing-masing. Faktor internal juga menetukan kekuatan hambatan pengaruh faktor eksternal pada kepribadian yang terbentuk.
Yang perlu kita semua camkan dalam diri kita, kedewasaan itu berkaitan erat dengan kesadaran akan kebenaran. Kesadaran, pengakuan serta kemauan menjalani hal-hal yang diyakini benar. Kebenaran sebenarnya bukan hal yang perlu ditunggu atau dicari karena setiap materi dan imateri di alam ini mengandung kebenaran. Ibarat seseorang yang membuka-buka banyak pintu untuk mencari kuncinya yang hilang, padahal kunci yang digunakan untk membuka-buka pintu itulah kunci yang sedang dicarinya. Kebenaran akan terlihat jika kita mengamati dengan cara yang dewasa.
Seorang anak kecil selalu berpikir tentang hal-hal ideal yang akan dilakukannya setelah dia dewasa nanti. Kenapa setelah “dewasa” bukan setelah “tua”? Karena setiap saat orang-orang yang berada di sekelilingnya selalu berkata “setelah kau dewasa nanti ....”, bukannya “setelah kau tua nanti ...”. Karena itu dalam setiap diri kita tertanam pemikiran bahwa pada suatu saat kita semua akan mencapai kedewasaan tanpa usaha sama sekali. Kedewasaan sama seperti uban yang akan kita peroleh pada masa tertentu.
Ada pula pemikiran yang menjelaskan bahwa “dewasa” dan “tua” hanyalah perbedaan nilai bahasa. Dewasa mencerminkan kemapanan pemikiran dan hidup, sedangkan tua menyiratkan ketidakberdayaan dan keterlambatan dalam melakukan sesuatu. Orang yang disebut dewasa merupakan seseorang yang sedang berada dalam nilai diri paling tinggi dari hidupnya, dan orang yang dikatakan tua adalah orang yang sudah melewati kesempatan-kesempatan berharga dalam hidup. Karena itu seseorang akan merasa lebih bangga jika disebut dewasa dibandingkan tua.
Kedewasaan itu sebenarnya merupakan pola pikir. The way we think about something. Dua orang tua (telah melewati masa remaja) bisa saja memikirkan tentang hal yang sama tapi berbeda arah pemikirannya. Bisa dianalogikan seperti 2 komputer mengolah data yang sama tetapi dengan 2 prosesor yang berbeda. Seseorang yang telah dewasa tidak melibatkan banyak emosi dalam proses pemikirannya, sebaliknya orang yang tidak dewasa membiarkan pikirannya dikontrol oleh emosi dibanding logika, bahkan tidak menyadari pikirannya didominasi oleh emosi. Emosi yang dirasakan atau dialami bisa bermacam-macam, ada amarah, kesedihan, kegembiraan, dan yang paling sering adalah ketakutan, entah ketakutan akan kehilangan, tidak dapat diterima pergaulan, ketakutan tidak dianggap, dan lain-lain. Karena berbagai macam emosi ini, seseorang yang tidak dewasa pada umumnya membiarkan faktor-faktor eksternal (di luar diri) mempengaruhi integritas dirinya. Contohnya seseorang yang berbohong/ tidak jujur agar tidak dianggap aneh oleh lingkungannya, seseorang yang mudah marah jika “dipancing” orang lain, seseorang yang bergaya atau berdandan berlebihan atau melakukan kebiasaan tertentu, seperti merokok, supaya bisa diterima atau diakui suatu komunitas. Bahkan pada kadar yang berlebihan seseorang dapat kehilangan identitas dirinya sendiri.
Semua manusia pada masa remajanya mengalami masa transisi atau disebut juga masa pencarian jati diri dan mengalami periode ketidakdewasaan tersebut. Setiap orang mengalami periode ini dengan intensitas dan lama waktu yang berbeda-beda. Bahkan ada yang tidak pernah mencapai kedewasaan. Kenapa demikian? Banyak faktor yang mempengaruhi dan faktor-faltor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yang berpengaruh dapat berasal dari lingkungan individu tersebut. Ada kondisi lingkungan-lingkungan tertentu yang membuat pemikiran seseorang tidak dapat berkembang sehingga tidak mencapai kedewasaan. Faktor kedua dan yang paling menentukan ialah faktor internal. Seberapa kuat dan efisien nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang individu yang menjadikan proses pendewasaan berlangsung baik sehingga melahirkan pola pemikiran yang berintegritas dan bertanggung jawab pada diri masing-masing. Faktor internal juga menetukan kekuatan hambatan pengaruh faktor eksternal pada kepribadian yang terbentuk.
Yang perlu kita semua camkan dalam diri kita, kedewasaan itu berkaitan erat dengan kesadaran akan kebenaran. Kesadaran, pengakuan serta kemauan menjalani hal-hal yang diyakini benar. Kebenaran sebenarnya bukan hal yang perlu ditunggu atau dicari karena setiap materi dan imateri di alam ini mengandung kebenaran. Ibarat seseorang yang membuka-buka banyak pintu untuk mencari kuncinya yang hilang, padahal kunci yang digunakan untk membuka-buka pintu itulah kunci yang sedang dicarinya. Kebenaran akan terlihat jika kita mengamati dengan cara yang dewasa.
Langganan:
Postingan (Atom)
