Pages

Kamis, 11 Juni 2009

Pengen jadiin sesuatu lebih indah.

Aku yakin kalo sebenarnya banyak hal di sekitar aku yang begitu luar biasa. Aku ingin mengangkat semua itu menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Entahlah mungkin kujadikan sebuah tulisan, mungkin kujadikan komoditi bisnis, ato apa pun. Tapi entahlah. Banyak sekali kendalanya. Aku tahu aku harus bisa dan berusaha mengatasi semua keterbatasan itu. Tapi terkadang aku frustasi juga. Seakan-akan semua jalan telah buntu.

“Seandainya saja aku anak orang kaya”

Pikiran itu yang selalu muncul tiap kali datang kendala pada tiap usahaku. Skali lagi aku tahu itu salah. Hanya saja terasa lebih mudah mengerjakan segala sesuatu ketika kita berada di sebuah kamar kosan yang lebih luas, ada koneksi internet, ada saluran tv kabel, kamar mandi di dalam, dan terutama punya mobil sehingga aku dengan mudah bisa ke mana saja untuk mengurus semua rencana yang ada di benakku. Dengan mudah ke tempat-tempat belanja untuk beli barang dagangan, ngangkut barang dagangan yang begitu banyak ke kosan, hingga nganterin barang ke cargo buat dikirim n dijual. Tapi ga mungkin kan hanya dengan berandai-andai seperti itu semua bisa terwujud.

Tapi aku juga berpikir. Ada enaknya juga jadi anak dengan ekonomi pas-pasan. Soalnya ketika ketika berhasil kepuasannya luar biasa berlipat ganda. Kenapa? Karena kita benar-benar memulai segalanya dari nol dengan tingkat kesulitan yang mungkin tidak akan bisa diatasi oleh anak-anak kaya. Bener juga sih.

Maka aku akan berusaha. Yah, standar kata-katanya. Berusaha. Tapi emang harus kayak gitu. Dan satu lagi : wujudkan. It means, kerja, kerja, dan kerja. Wujudkan niat untuk berusaha itu dengan kerja yang nyata. Jangan hanya memikirkan kosep-konsep mutakhir tanpa melakukan apa-apa. Mematangkan konsep memang penting, tapi jangan kelamaan. Begitu konsep terlihat cukup sempurna dan logis, ya kerjakan. Memang segala sesuatu ada waktunya. Tapi untuk suatu yang luar biasa, kita butuh kebiasaan yang luar biasa pula. Kalo ingin mencapai sukses lebih dari orang kebanyakan artinya harus punya cara berpikir cara melihat, kebiasaan, kedisiplinan, dan waktu kerja yang lebih dari orang kebanyakan.

Kendala selanjutnya, apa yang pertama kali harus dikerjakan?

Beneran itu kendalanya? Yakin? Aku tahu aku bukan anak dengan sistem engine otak yang lambat, meskipun ga jenius juga sih. Yah, di atas rata-rata lah. Jadi aku pasti punya berbagai alternatif untuk memulai sesuatu. Malah bisa dibilang kalo soal konsep-mengonsep, aku jagonya. Tapi itu sama sekali tidak membuat aku bangga. Ya, bangga sih, dikit. Tapi aku akan lebih bangga lagi kalo aku bisa bener-bener melakukan konsep-konsep aku itu.

Tidak setiap konsep yang aku pikirkan itu tepat. Terkadang ketika konsep awal itu sudah kuwujudkan, aku baru menyadari kalo strategi itu salah. Tapi ga apa. There’s a cost for an experience. Aku sangat meyakini hal itu. Kalo aku ga ngelakuin kesalahan itu, mungkin aku ga akan pernah tahu tentang hal-hal berharga lain. Alhamdulillah. Ternyata Allah begitu sayang padaku hingga memberikan begitu banyak pelajaran, tiap menit, bahkan tiap detik. Semakin aku memikirkannya, semakin aku menyadari banyak yang aku lewatkan. Dengan keterbatasanku sebagai seorang manusia tentu saja aku tidak bisa memahami setiap pelajaranNya pada waktu bersamaan. It takes time. Dan setelah memahaminya, semakin kagum aku akan kasih sayang Allah padaku. Padahal aku bukan siapa-siapa. Hanya seorang ayha.

Back to the main idea, jadi apa sebenarnya kendala terberatku? Menunda-nunda pekerjaan. Yap. Aku harus bisa menghilangkan kebiasaan buruk itu. Sejak kecil aku selalu membudayakan hal itu. Mungkin aku terlahir dengan sifat itu. Tapi bukan berarti aku akan wafat dengan sifat itu juga kan? Harus ada yang mengubah. Dan pastinya yang bisa mengubah itu hanya AKU. Terlalu banyak kata “aku” di dini. Jangan-jangan ini menunjukkan bahwa aku orang yang sangat egois? Mudah-mudahan ga deh. Aku kan emang lagi ngomongin dan memotivasi diri dengan menulis.

O ya, salah satu alasan aku menulis adalah dengan menulis aku bisa menyeimbangkan pikiran dan perasaanku. Aku orang yang sangat perasa. Sangat mementingkan perasaan daripada logika. Padahal aku bukan anak dengan kemampuan logika rendah. Sebenarnya dalam setiap tindakanku logika dan perasaanku berkecamuk. Tapi hampir 80 % hasil kecamukan itu dimenangkan oleh perasaan. Meskipun aku tahu, secara logika itu ga masuk akal ato bahkan salah sama sekali.

Karena itu, untuk memenangkan sang logika, aku menulis. Dengan menulis, aku bisa mereview kembali segala alasan, pemikiran, keputusan yang aku buat. Aku bisa menilai, keputusan itu dimenangkan oleh siapa. Si perasaan ato si logika. Menulis membuatku berpikir lebih jernih dan lebih benar. Dan pada akhirnya mencapi kesadaran akan sesuatu hal. So, walaupun aku tahu masih banyak kekurangan dalam tulisan-tulisanku, aku akan terus menulis. Bodo amat. G ada yang bakal baca juga. Ya ga?

Jadi, untuk tulisan kali ini kesadaran akan hal apa yang aku peroleh? Hm, let me think. Kali ini aku sadar, betapa buruknya akibat dari menunda-nunda pekerjaan. Seperti tulisan ini, aku sudah berpikir ingin menulis sesuatu tentang hal ini jauh-jauh hari. But in fact, baru terwujud sekarang. Hehe. Next, aku sekarang tau, aku butuh menulis tiap hari. Bukan diari cengeng seperti kebanyakan cewek, tapi kebalikan dari itu, tulisan-tulisan yang bisa membuat aku menilai dan menyadari segala sesuatu lebih benar. Tidak perlu lebih baik, cukup lebih benar.

Ok, this is for the first step. Let go.

2 komentar:

Fikri mengatakan...

like this..hehe

ayhako mengatakan...

yeeee....
dasar koko'....

Posting Komentar